Senin, 30 Oktober 2017

Tradisi yang Harus Diterapkan di FIFA Menurut Ridwan Kamil

BANDUNG, - Wali Kota Bandung M.Ridwan Kamil mengatakan Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 ini, tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan minat bakat para santri , namun ada nilai lebih yaitu nilai adab budaya Indonesia yang dikenal sopan santun dalam bermain bola. Karena, setiap para pemain diharuskan mencium tangan wasit sebelum memulai pertandingan.

"Alhamdulillah hari ini sudah mencapai laga final dari Liga Santri Nusantara 2017. Di Stadion Gelora Bandung Lautan Api akan mempertandingkan juara tim yang sama-sama tangguh karena sudah bisa mencapai laga final. LSN ini tidak hanya sebagai wadah penyalur minat dan bakat para santri, namun ada nilai lebih yang ditonjolkan dari setiap pertandingan yang sudah dilewati yaitu nilai atau adab sopan santunnya yang menjadi ciri khas Indonesia sebagai masyarakat yang berbudaya. Maka dari itu, tradisi mencium wasit ini bagus kita rekomendasikan kepada FIFA," Ujarnya saat memberikan sambutan dalam laga Final Liga Santri Nusantara 2017 di Stadion GBLA, Kota Bandung, Minggu (30/10/2017).

Lanjutnya, Emil sapaan akrab Ridwan Kamil berharap, LSN akan menjadi wadah silaturahmi bagi seluruh pondok pesantren yang ada di Indonesia, sehingga akan banyak inovasi dan kemajuan yang terjadi di pondok pesantren jika semua pondok pesantren bisa bersama-sama berkomitmen melahirkan generasi penerus bangsa yang tangguh dan memegang teguh ajaran Islam.

"LSN diharapkan, menjadi wadah silaturahmi bagi seluruh pondok pesantren yang ada di Indonesia. Berbahu bersama demi melahirkan para penerus bangsa yang teguh memegang nilai-nilai agama. Karena, Indonesia merdeka tidak lepas dari para santri yang berjuang melawan para penjajah. Dan sekarang sudah saatnya santri menjadi poros terdepan kemajuan dan perubahan Indoensia ke arah yang lebih baik dari sekarang," tuturnya.

Selanjutnya menurut Presiden Republik Indonesia Joko Widodo melalui sambutanya yang dibacakan oleh Mentri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia Imam Nahrowi mengatakan, LSN 2017 menyugukan sejumlah pertandingan yang berkwalitas dan menjunjung tinggi sportifitas. Karena, olahraga itu menjalurkan kepada setiap atlit ke arah yang positif. Maka dari itu, LSN diharapkan akan menciptakan generasi pemain sepakbola Tim nasional Indonesia.

"LSN merupakan kompetisi yang baik dan menyuguhkan sejumlah pertandingan yang berkwalitas dan menjunjung tinggi nilai-nilai sportifitas. Semoga LSN akan kembali menciptakan generasi pemain sepakbola yang akan bermain di tim nasional Indonesia, Seperti M.Rafli Mursalim yang bersinar bersama timnas U-19 di Piala AFF U-18 2017 yang merupakan jebolan dari LSN. M. Rafli memulai karier sepak bolanya di Pesantren Al-As'ariyah Banten," ucapnya.

Pertandingan final yang mempertemukan dua kesebelasan terbaik yaitu Darul Huda Ponorogo dan Darul Hikmah Cirebon berakhir dengan skor yang sangat tipis 1-0 untuk kemenangan Darul Huda Ponorogo.

Gol tunggal kemenangan Darul Huda dicetak pemain bernomor punggung 15 yaitu Fery melalui tendangan jarak jauh dengan kaki kirinya pada menit ke-10. Dengan keberhasilan tersebut, Darul Huda berhak atas trofi plus hadiah uang senilai Rp 100 juta.

Tidak hanya itu, Keberhasilan Darul Huda juga dilengkapi oleh gelar pemain terbaik yang direbut, Inzaghi sekaligus sebagai kapten tim. Inzaghi berhak atas hadiah uang sebear Rp 5 juta berserta trofi dan medali emas. Sementara itu, Darul Hikmah sebagai runner-up harus puas meraih hadiah uang senilai Rp 75 juta plus trofi.

red

kilas media

@ Hikmah Harian

”Islam dibangun atas lima perkara, yaitu : (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji ke Baitullah (bagi yang mampu, pen), (5) berpuasa di bulan Ramadhan.” (Lafadz ini adalah lafadz Muslim no. 122)

Subscribe via Email :