BANDUNG, Kilas Media - Program Siskamling Siaga Bencana di Kelurahan Maleer, Kecamatan Batununggal, menyoroti sejumlah persoalan krusial seperti peredaran minuman keras (minol), pengelolaan sampah, dan sanitasi warga. Kunjungan lapangan dilakukan langsung oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, untuk memastikan kesiapsiagaan bencana berjalan bersamaan dengan pemberdayaan masyarakat.
Farhan menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur, termasuk normalisasi sungai melalui program Citarum Harum, harus diiringi penguatan aspek sosial. “Setelah normalisasi, yang paling penting itu pemberdayaan masyarakatnya. Jangan sampai infrastrukturnya sudah bagus, tapi persoalan sosialnya tertinggal,” ujarnya saat meninjau kawasan Maleer. Ia juga mengakui adanya kekhawatiran warga terhadap peredaran minol dan obat keras. “Dicek izinnya ada atau tidak. Barangnya legal atau ilegal. Kalau punya izin pun, apakah hanya menjual atau memperbolehkan minum di tempat? Itu izinnya berbeda,” jelas Farhan, Selasa, 24 Februari 2026.
Di sektor lingkungan, program Gaslah yang mengelola sampah di tingkat RW menunjukkan hasil positif. Setiap petugas mampu mengolah 70–80 kilogram sampah per hari, namun Farhan menekankan program ini masih dalam evaluasi. “Saya beri waktu sampai akhir Maret. Ujian terbesarnya akhir Ramadan. Timbulan sampah pasti naik, sementara petugas bisa saja mudik,” katanya. Teknologi pengolahan lain seperti RDF juga masih dalam tahap perbaikan akibat kendala teknis.
Masalah sanitasi menjadi perhatian serius. Data Pemkot menunjukkan sekitar 27 persen rumah belum memiliki septic tank layak. Farhan menegaskan, “Jangan sampai persoalan sanitasi ini dibiarkan dan akhirnya jadi masalah lingkungan yang lebih besar.” Pemkot telah membangun septic tank komunal dan biotank, tetapi biaya sambungan pipa dari rumah warga masih ditanggung mandiri, berkisar Rp5 juta per rumah, dan akan diupayakan solusi murah dan tepat guna pada 2027.
Farhan menekankan bahwa Siskamling tidak hanya untuk mitigasi bencana alam, tetapi juga sebagai deteksi dini persoalan sosial dan lingkungan. “Yang paling penting itu bagaimana masyarakat aware. Minol, sampah, dan sanitasi itu bagian dari kesiapsiagaan sosial yang harus kita tangani bersama,” katanya. Dengan keterlibatan aktif warga, program ini diharapkan memperkuat kesadaran kolektif dan menciptakan lingkungan lebih bersih, aman, dan sehat.
Dengan langkah tegas terhadap minol, sampah, dan sanitasi, Pemkot Bandung berharap Maleer menjadi contoh wilayah yang tangguh dan terlayani secara menyeluruh. Farhan menambahkan, pendekatan berbasis komunitas seperti ini akan menjadi model bagi RW lain di Kota Bandung. “Jangan sampai infrastrukturnya sudah ada, tapi persoalan sosial dan lingkungan tertinggal,” pungkasnya.
