Rabu, Februari 25, 2026

Mendiktisaintek Siap Kerahkan Kampus Tangani Sampah di Kota Bandung


BANDUNG, Kilas Media -
 Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menyatakan siap membantu Pemerintah Kota Bandung mengatasi masalah sampah dengan melibatkan perguruan tinggi dan mahasiswa. Salah satunya melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik yang difokuskan pada pengelolaan sampah di tingkat RW dan kelurahan.

Brian menilai Kota Bandung memiliki modal kuat berupa jejaring perguruan tinggi besar dan jumlah mahasiswa yang melimpah. “Kampus memetakan kebutuhan komposting, maggotisasi, biodigester, RDF, sampai rantai pasoknya. Setelah itu kita usulkan ke pemerintah pusat. Jadi tidak membebani APBD,” ujarnya saat berkunjung ke Balai Kota Bandung, Rabu, 25 Februari 2026. Ia menambahkan, pendekatan ini lebih efisien dibanding pembangunan fasilitas waste to energy berskala besar yang bisa menelan biaya Rp2–3 triliun per unit.

Program ini direncanakan melibatkan kampus, pemerintah pusat, Pemkot Bandung, hingga unsur TNI-Polri untuk pengawasan, khususnya di sektor horeka (hotel, restoran, kafe) dan pasar. Brian menegaskan, “Kita jadikan Bandung panggung percontohan nasional. Tahun ini kita keroyok bersama.” Bandung termasuk lima kota pilot project pengelolaan sampah berbasis kolaborasi kampus dan pemerintah daerah, bersama Bogor, Tangerang, Purwokerto, dan Yogyakarta.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memaparkan bahwa timbulan sampah di kota mencapai 1.507,85 ton per hari, dengan 60 persen berasal dari rumah tangga dan dominasi sisa makanan serta daun. Namun, hanya sekitar 21,63 persen sampah yang benar-benar terkelola, sementara sisanya masih mengalir ke TPA atau tercecer di lingkungan. “Mindset yang harus kita ubah adalah ‘saya sudah bayar, sampah harus hilang’. Itu keliru. Sampah bukan soal hilang, tapi harus dikelola,” sebut Farhan.

Sebagai jawaban atas persoalan hulu, Pemkot Bandung meluncurkan program Gaslah, dengan 1.597 petugas di setiap RW yang mengetuk pintu rumah warga untuk mengedukasi pemilahan sampah organik sekaligus mengangkutnya. Setiap petugas ditargetkan mengumpulkan minimal 25 kilogram sampah organik per hari. “Tanpa rekayasa sosial dan enforcement, tidak akan selesai. Hulu harus beres dulu,” ujar Farhan.

Pemkot juga mengintegrasikan program Kang Pisman, Buruan Sae, dan Dapur Sehat Atasi Stunting dalam satu ekosistem sirkular, mengubah sampah organik menjadi kompos atau maggot, hasil panen dimanfaatkan untuk dapur warga, dan sisa dapur kembali dikelola. Farhan menekankan pentingnya kesadaran warga. “Inilah sirkular Bandung Utama. Kita bangun budaya, bukan hanya teknologi. Kalau kesadaran tidak dibangun, teknologi apa pun nanti ambyar,” pungkasnya.

***

kilas media

@ Hikmah Harian

”Islam dibangun atas lima perkara, yaitu : (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji ke Baitullah (bagi yang mampu, pen), (5) berpuasa di bulan Ramadhan.” (Lafadz ini adalah lafadz Muslim no. 122)

Subscribe via Email :