Jumat, Agustus 21, 2026

TPSOS Gedebage Jadi Pilot Project, Bandung Bidik Pengolahan 300 Ton Sampah per Hari


BANDUNG, Kilas Media -
  Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menyiapkan fasilitas pengolahan sampah berkapasitas hingga 300 ton per hari di Tempat Pengolahan Sampah Organik dan Sirkular (TPSOS) Gedebage. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026 atau awal 2027.

Pengembangan fasilitas ini dilakukan melalui kolaborasi Pemkot Bandung dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara ketiga pihak di Balai Kota Bandung, Jumat (21/8/2026).

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pembangunan fasilitas pengolahan sampah tersebut menjadi salah satu langkah cepat Pemkot Bandung dalam menghadirkan solusi pengelolaan sampah berbasis teknologi.

“Di hari Jumat siang ini telah ada kesepakatan bersama, komitmen bersama antara Pemerintah Kota Bandung dengan PT Danantara Development Management Fund dan Kementerian Dikti, Sains dan Teknologi. Dalam hal ini kami akan membangun satu fasilitas pengolahan sampah dengan menggunakan sebuah teknologi yang baru,” ujar Farhan.

Menurut Farhan, fasilitas tersebut akan dibangun di kawasan Gedebage. Pemkot Bandung bersama pihak terkait sebelumnya telah melakukan survei lokasi dan menilai kawasan tersebut memungkinkan dikembangkan sebagai fasilitas pengolahan sampah berkapasitas hingga 300 ton per hari.

Farhan mengatakan, pembangunan fasilitas tersebut penting karena Kota Bandung selama ini masih bergantung pada tempat pemrosesan akhir (TPA) yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Terus terang Kota Bandung itu satu-satunya ibu kota provinsi yang tidak punya TPA. Jadi kami sangat tergantung kepada TPA-TPA yang dibangun oleh provinsi, baik yang di Sarimukti maupun yang sekarang sedang dibangun di Legok Nangka,” katanya.

Menurut Farhan, pembangunan fasilitas Legok Nangka masih membutuhkan waktu. Karena itu, Kota Bandung perlu menyiapkan solusi pengelolaan sampah sembari menunggu fasilitas tersebut beroperasi.

“Waktu itu Pak Gubernur memberikan pekerjaan rumah. Sambil menunggu tiga tahun Legok Nangka jadi, kalian bisa bikin apa? Nah, ini salah satu terobosan yang kami lakukan,” ujarnya.

Farhan menargetkan pembangunan dan persiapan fasilitas TPSOS Gedebage dapat dipercepat sehingga mulai beroperasi pada akhir 2026 atau awal 2027.

Pemkot Bandung juga akan menyiapkan aspek administrasi dan penganggaran, termasuk finalisasi perubahan anggaran 2026 serta penyusunan Kebijakan Umum Anggaran 2027.

Farhan berharap fasilitas tersebut dapat menjadi solusi konkret untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah Kota Bandung sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap TPA.

Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara Sigit Puji Santosa mengatakan, teknologi yang disiapkan mengusung konsep pengolahan sampah secara terdesentralisasi.

Dengan konsep tersebut, sampah tidak seluruhnya harus dibawa ke TPA, tetapi dapat diolah di wilayah masing-masing.

“Ini adalah solusi yang kita sebut desentralisasi. Artinya tidak perlu dibawa ke TPA, tempat penimbunan akhir, tapi kita selesaikan di regional masing-masing,” kata Sigit.

Ia menjelaskan, teknologi tersebut akan mengolah sampah menjadi Solid Recovered Fuel (SRF), yakni material dengan nilai kalor tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk kebutuhan industri, seperti kilang, pabrik, maupun boiler.

Menurut Sigit, konsep tersebut tidak hanya mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menghasilkan produk bernilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan sektor industri.

Dari sisi lingkungan, teknologi yang dipilih juga harus memenuhi standar agar tidak menimbulkan gangguan bagi masyarakat sekitar.

“Kita pastikan teknologi yang kita pilih adalah teknologi yang ter-contained dan ter-capture sehingga tidak ada bau yang mengganggu lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Sementara dari sisi investasi, Sigit mengatakan nilai pembangunan fasilitas berkapasitas 300 ton per hari masih dalam tahap penghitungan finansial.

Berdasarkan proses benchmarking, kebutuhan investasi diperkirakan berada pada kisaran Rp50 miliar hingga Rp60 miliar.

Sigit menyebut fasilitas di Gedebage akan menjadi tahap awal atau pilot project. Jika berhasil, konsep serupa dapat dikembangkan di lokasi lain, termasuk sejumlah Sub Wilayah Kota (SWK) di Bandung dan daerah lainnya.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan, pengembangan teknologi tersebut merupakan bagian dari dukungan perguruan tinggi dalam mempercepat penyelesaian persoalan sampah di berbagai daerah.

Menurut Brian, perguruan tinggi melakukan berbagai kajian untuk menemukan pendekatan teknologi yang dapat diterapkan sesuai karakteristik dan kebutuhan daerah.

“Sesuai arahan Bapak Presiden, dari perguruan-perguruan tinggi melakukan berbagai kajian untuk mendukung percepatan penyelesaian sampah yang ada di berbagai wilayah Indonesia,” ujar Brian.

Ia menjelaskan, teknologi yang dikembangkan menggunakan pendekatan berbeda untuk sampah organik dan nonorganik. Sampah organik dapat diolah, antara lain, dengan pemanfaatan maggot, sedangkan material tertentu dapat diproses menjadi SRF.

Kajian tersebut juga memperkaya teknologi yang telah dikembangkan di sejumlah negara, termasuk Turki, untuk mendapatkan teknologi yang dinilai sesuai dengan kebutuhan Kota Bandung.

Brian berharap TPSOS Gedebage dapat menjadi contoh pengelolaan sampah terdesentralisasi yang bisa direplikasi di wilayah lain.

“Ini tahap awal, sebagai pilot project. Kalau ini bisa berhasil, kita berharap setiap SWK juga bisa dilakukan pembangunannya sehingga penyelesaian sampah di Kota Bandung ini harapannya bisa diselesaikan dan akan menjadi percontohan untuk daerah-daerah lain,” katanya.

Kolaborasi Pemkot Bandung, Kemdiktisaintek, Danantara, dan perguruan tinggi diharapkan menghasilkan model pengelolaan sampah yang tidak hanya mengurangi persoalan lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi.

Dengan kapasitas awal hingga 300 ton sampah per hari, TPSOS Gedebage diharapkan menjadi langkah awal menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih terdesentralisasi di Kota Bandung dan dapat mulai beroperasi pada akhir 2026 atau awal 2027.

kilas media

@ Hikmah Harian

”Islam dibangun atas lima perkara, yaitu : (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji ke Baitullah (bagi yang mampu, pen), (5) berpuasa di bulan Ramadhan.” (Lafadz ini adalah lafadz Muslim no. 122)

Subscribe via Email :